Dulu gue pikir, bahan dari jamur itu cuma buat pameran seni atau eksperimen mahasiswa yang nggak bakal tembus pasar. Kesanannya kaku, eksperimental, dan jauh dari kata “kece” buat dipakai sehari-hari.
Eh, ternyata gue salah besar.
Agustus 2026 ini, tas berbahan mycelium jamur—tepatnya produk bernama Mylea™ dari startup Bandung, MYCL—lagi jadi rebutan di skena fashion lokal. Bukan cuma kalangan pegiat lingkungan, tapi juga anak muda urban yang peduli gaya. Yang tadinya cuma jadi bahan pameran museum, sekarang jadi barang incaran yang bikin penasaran.
Kenapa ini bisa terjadi?
Dari Pameran ke Pasar: Mycelium Bukan Lagi Sekadar “Eksperimen”
Ceritanya dimulai dari hal sederhana: tempe. Adi Reza Nugroho, lulusan arsitektur ITB yang jadi pendiri MYCL, ngeliat gimana miselium jamur bisa ngikat kedelai jadi satu blok padat . “Kalo bisa buat tempe, kenapa nggak buat material lain?” pikirnya.
Dari situ lahirlah Mylea™—kulit vegan dari jamur yang ditumbuhin di atas limbah pertanian kayak serbuk kayu atau sekam jagung . Prosesnya mirip fermentasi tempe, cuma hasilnya bukan makanan, tapi lembaran yang teksturnya mirip kulit asli.
Awalnya, material ini dianggap cuma “mainan” para desainer eksperimental. Tapi 2026 ini, persepsi itu mulai pudar. MYCL udah nggak cuma jadi wacana. Mereka udah punya lebih dari 750 klien, termasuk brand sepatu lokal Brodo dan brand internasional kayak Doublet yang bahkan bawa koleksi berbahan Mylea™ ke Paris Fashion Week .
Contoh Nyata: Bukan Sekadar Pajangan
Contoh #1: Doublet di Paris Fashion Week
Brand streetwear asal Jepang ini jadi salah satu pelopor yang berani ganti kulit hewani di koleksi Spring Summer 2022 mereka dengan Mylea™ . Mereka percaya bahwa kepedulian lingkungan bisa tampil stylish tanpa harus mengorbankan estetika. Ini ngebuktiin kalau material mycelium udah dianggap serius di level internasional.
Contoh #2: Brodo dan Kolaborasi Lokal
Brodo, sneaker brand lokal yang lagi naik daun, jadi salah satu partner utama MYCL di Indonesia. Mereka pakai Mylea™ buat koleksi sepatu yang bahkan ekspansi ke Jepang . Anak muda yang suka sneaker mulai sadar: barang keren nggak harus dari kulit sapi.
Contoh #3: Riset Mahasiswa ITS
Nggak cuma brand besar, anak kampus juga mulai serius. Divara Sahda Kusumawardani dari ITS Surabaya bahkan bikin tesis tentang eksplorasi tas mewah dari mycelium leather. Dia ngembangin tiga seri tas—Thalla, Eunoa, dan Lyvora—yang terinspirasi dari bunga mekar dan daun . Ini menandakan bahwa material ini udah masuk ke ranah akademik dan desain serius.
Faktor Pendukung: Kenapa Mycelium Tiba-tiba Naik Daun?
Ada beberapa alasan kenapa Mylea™ sekarang jadi rebutan:
1. Isu Lingkungan yang Semakin Genting
Industri kulit tradisional itu mahal biaya lingkungannya: peternakan sapi, penggunaan bahan kimia kayak krom buat penyamakan, dan emisi karbon yang gede . Mycelium menawarkan alternatif yang lebih ramah: proses produksi pake limbah pertanian, konsumsi air 70% lebih hemat, dan emisi karbon 68% lebih rendah .
Data dari MYCL sendiri nunjukkin, kolaborasi mereka dengan brand di Vietnam bisa ngurangin konsumsi air sampe 99% dan jejak karbon 80% . Angka-angka ini yang bikin brand-brand global mulai melirik.
2. Ketersediaan Limbah Pertanian yang Melimpah
Indonesia punya masalah limbah pertanian. Lebih dari 100 juta ton limbah pertanian dihasilkan setiap tahun, dan banyak yang dibakar di ladang, nyumbang polusi . MYCL justru ngeliat ini sebagai peluang. Mereka ngubah limbah sawit, bongkol jagung, dan sekam padi jadi bahan bernilai tinggi . Ini bukan cuma bisnis, tapi solusi.
3. “Prestige” dari Paris Fashion Week
Begitu brand Doublet tampil di Paris Fashion Week pake Mylea™, material ini langsung naik kelas . Nggak cuma “bahan ramah lingkungan”, tapi juga “bahan yang dipakai di panggung mode dunia”. Ini nilai prestise yang bikin anak muda mulai ngidam.
Data dan Fakta: Bukan Hype Sesaat
MYCL udah berhasil menggandakan kapasitas produksi dari 4.000 kaki persegi per tahun jadi 10.000 kaki persegi per tahun . Revenue mereka naik 68% di 2025, dan jumlah pesanan B2B dan B2C melonjak 117% dalam setahun . Ini bukan sekadar hype sesaat, tapi pertumbuhan bisnis yang nyata.
Bahkan, pemerintah Aceh Tamiang udah mulai ngelirik MYCL buat bangun pabrik di sana, pake limbah sawit sebagai bahan baku . Investasi ini diharapkan bisa ngebuat lapangan kerja baru sekaligus ngurangin polusi dari pembakaran limbah.
Common Mistakes: Jangan Salah Kaprah!
Meski tren ini lagi naik, banyak yang salah paham. Nih gue kasih tau:
Kesalahan #1: Anggep Mycelium Sama Kayak Plastik atau Kulit Sintetis
Mycelium itu berbeda. Kulit sintetis biasanya dari PVC atau poliuretan—turunan minyak bumi yang nggak biodegradable . Mycelium tumbuh dari limbah organik dan bisa terurai secara alami. Ini bukan cuma “vegan”, tapi juga “biodegradable” .
Kesalahan #2: Ngerasa Material Ini Kurang Tahan Lama
Teksturnya emang beda sama kulit sapi, tapi Mylea™ udah diuji tahan air dan tahan api . Bahkan, MYCL udah diajak kolaborasi sama Hyundai dan Lexus buat aplikasi interior mobil . Kalo bisa buat jok mobil, ya jelas tahan lama.
Kesalahan #3: Anggep Ini Cuma Buat Kalangan Eksklusif
Emang sih, harga Mylea™ masih relatif lebih mahal dari kulit sintetis biasa. Tapi bukan berarti cuma buat kalangan tertentu. Brodo dan brand lokal lain mulai bawa produk berbahan mycelium di harga yang lebih terjangkau . Seiring skala produksi naik, harga pasti bisa turun.
Tips Actionable: Cara Mulai Pakai Mycelium
Buat lo yang pengen ikutan tren ini tanpa jadi korban gimmick:
- Cari Brand Lokal yang Pakai Mylea™: Mulai dari Brodo atau brand lain yang udah kolaborasi dengan MYCL. Dukung produk lokal yang sustain.
- Cek Label Bahan: Kalo beli tas atau sepatu, cek apakah bahannya “mycelium leather” atau “Mylea”. Jangan sampe terkecoh sama istilah “vegan leather” yang kadang masih dari plastik.
- Tanya Proses Produksi: Brand yang beneran sustain biasanya terbuka soal sumber bahan baku dan proses produksi. Tanya aja.
- Mulai dari Aksesori Kecil: Nggak usah langsung beli tas mahal. Coba dari dompet atau strap jam tangan dulu.
- Dukung Riset Lokal: Mahasiswa kayak Divara dari ITS udah bikin riset serius soal mycelium. Dukungan dari publik bisa dorong inovasi lebih lanjut .
Kesimpulan: Bukan Sekadar Pajangan, Ini Masa Depan
Tas berbahan mycelium jamur bukan lagi sekadar pajangan pameran atau eksperimen seni yang kaku. Di Agustus 2026 ini, material ini udah jadi barang rebutan di skena fashion lokal dan global . Dari tempe, dari limbah pertanian, dari Bandung—MYCL udah ngebuktiin bahwa inovasi dan keberlanjutan bisa jalan bareng.
Pertanyaannya: lo mau ikutan jadi bagian dari gerakan ini, atau masih ngejar kulit sapi yang nggak cuma mahal tapi juga mahal biaya lingkungannya?